BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Coronary
Artery Disease adalah penyakit yang berkaitan dengan
kerusakan pada arteri koroner seperti angina pektoris dan infark miokard.
Beberapa ahli juga menyebutnya dengan istilah Acute Coronary Syndrome (ACS – sindrom koroner akut). Pengertian
klinis Angina adalah keadaan iskemia
miokard karena kurangnya suplai oksigen ke sel-sel otot jantung (miokard) yang
disebabkan oleh penyumbatan atau penyempitan arteri koroner, peningkatan beban
kerja jantung, dan menurunnya kemampuan darah mengikat oksigen.
Angina pektoris
berasal dari bahasa Yunani yang berarti “cekikan
di dada” yaitu gangguan yang sering terjadi karena atherosclerotic heart disease. Terjadinya serangan angina
menunjukkan adanya iskemia. Iskemia yang terjadi pada angina terbatas pada
durasi serangan dan tidak menyebabkan kerusakan permanen jaringan miokard.
Namun, angina merupakan hal yang mengancam kehidupan dan dapat menyebabkan
disritmia atau berkembang menjadi infark miokard.
( Keperawatan
Kardiovaskular, 2010 )
1.2
Tujuan
a.
Menambah wawasan mahasiswa tentang
penyakit Angina Pektoris
1.3
Manfaat
a.
Untuk menggugah minat dan motivasi
mahasiswa untuk memperluas pengetahuan mahasiswa mengenai penyakit Angina
Pektoris
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
§ Angina
pektoris adalah nyeri dada yang ditimbulkan karena iskemik miokard dan bersifat
sementara atau reversibel. (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993)
§ Angina
pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada
yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali
menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera
hilang bila aktifitas berhenti. (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996)
§ Angina
pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa
tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun
Praktis Kardiovaskuler)
2.2 Etiologi
Penyebab
paling umum Coronary Artery Disease
(CAD) adalah Aterosklerosis.
Aterosklerosis digolongkan sebagai akumulasi sel-sel otot halus, lemak dan
jaringan konektif disekitar lapisan intima arteri. Suatu plaque (plak) fibrous
adalah lesi khas dari aterosklerosis. Lesi ini dapat bervariasi ukurannya dalam
dinding pembuluh darah, yang dapat mengakibatkan obstruksi aliran darah parsial
maupun komplet. Komplikasi lebih lanjut dari lesi tersebut terdiri atas plak
fibrous dengan deposit kalsium, disertai oleh pembentukan trombus. Obstruksi
pada lumen mengurangi atau menghentikan aliran darah kepada jaringan
sekitarnya.
Penyebab
lain dari CAD adalah spasme arteri
koroner. Penyempitan dari lumen
pembuluh darah terjadi bila serat otot halus dalam dinding pembuluh
darah berkontraksi (vasokontriksi). Spasme arteri koroner dapat menggiring
terjadinya iskemik aktual atau perluasan dari infark miokard.
Penyebab
lain di luar aterosklerosis yang dapat mempengaruhi diameter lumen pembuluh
darah koroner dapat berhubungan dengan abnormalitas sirkulasi. Hal ini meliputi
hipoperfusi, anemia, hipovolemik, polisitemia, dan masalah-masalah atas
gangguan katup jantung. (Keperawatan Kardiovaskular, 2010)
2.3 Faktor-Faktor Resiko
a.
Dapat
Diubah (dimodifikasi)
1.
Hipertensi
Hipertensi
merupakan salah satu faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit jantung
koroner. Komplikasi yang terjdi pada hipertensi esensial biasanya akibat
perubahan struktur arteri dan arterial sistemik, terutama terjadi pada kasus
yang tidak diobati. Mula-mula akan terjdi hipertrofi dari tunika media diikuti
dengan hialinisasi setempat dan penebalan fibrosis dari tunika intima dan
akhirnya akan terjdi penyempitan pembuluh darah. Tempat yang paling berbahaya
bila mengenai miokardium, arteri dan arterial sistemik arteri koroner dan
serebral serta pembuluh darah ginjal. Komplikasi terhadap jantung akibat
hipertensi yang paling sering terjadi adalah kegagalan ventrikel kiri, CAD
seperti angina pektoris dan miokard infark.
Perubahan
hipertensi khususnya jantung disebabkan karena :
1.
Meningkatnya tekanan darah
Peningkatan
tekanan darah merupakan beban yang berat untuk jantung, sehingga menyebabkan
hipertrofi ventrikel kiri (faktor miokard). Keadaan ini tergantung dari berat
dan lamanya hipertensi.
2.
Mempercepat timbulnya aterosklerosis
Tekanan
darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding
pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya aterosklerosis
koroner (faktor koroner). Hal ini menyebabkan angina pektoris, insufisiensi
koroner dan miokard infark lebih sering didapatkan pada penderita hipertensi
dibandingkan orang normal.
2.
Hiperkolesterolemi
Hiperkolesterolemi
merupakan masalah yang cukup penting karena termasuk salah satu faktor resiko
utama CAD. Kolesterol, lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan
dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh darah tersebut
menyempit dan proses ini disebut aterosklerosis. Penyempitan pembuluh darah ini
akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat sehingga
aliran darah pada pembuluh darah koroner yang fungsinya memberi O2 ke jantung
menjadi berkurang. Kurangnya O2 akan menyebabkan jantung menjadi lemah, sakit
dada, serangan jantung bahkan kematian.
Kadar kolesterol
darah dipengaruhi oleh ke dalam tubuh (diet). Faktor lainnya yang dapat
mempengaruhi kadar kolesterol darah disamping diet adalah keturunan, umur,
jenis kelamin, stress, alkohol dan exercise.
Diet merupakan
salah satu usaha yang paling baik dalam menanggulangi hiperkolesterolemi dimana
pada prinsipnya adalah mengatur agar susunan makanan sehari-hari rendah lemak
dan kolesterol. Di samping itu juga menyesuaikan perbandingan jumlah kalori
yang berasal dari lemak, protein dan karbohidrat sesuai dengan kebutuhan tubuh.
3.
Merokok
Efek rokok
adalah menyebabkan beban miokard bertambah karena rangsangan oleh katekolamin
dan menurunnya konsumsi O2 akibat inhalasi CO2 atau dengan perkataan lain dapat
menyebabkan tahikardi, vasokontriksi pembuluh darah, merubah permeabilitas
dinding pembuluh darah dan merubah 5-10% Hb menjadi carboksi-Hb. Disamping itu
rokok dapat menurunkan kadar HDL kolesterol makin menurun. Perempuan yang
merokok penurunan kadar HDL kolesterolnya lebih besar dibandingkan laki-laki perokok.
Merokok juga dapat meningkatkan tipe IV hiperlipidemi dan hipertrigliserid,
pembentukan platelet yang abnormal pada diabetes disertai obesitas dan
hipertensi, sehingga orang yang perokok cenderung lebih mudah terjadi proses
aterosklerosis daripada yang bukan perokok.
4.
Obesitas
Obesitas adalah
kelebihan jumlah lemak tubuh >19% pada laki-laki dan >21% pada perempuan.
Obesitas sering didapatkan bersama-sama dengan hipertensi, DM dan
hipertrigliserdemi. Obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan
LDL kolesterol. Resiko CAD akan jelas meningkat bila BB mulai melebihi 20% dari
BB ideal.
5.
Diabetes
Intoleransi
terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit
pembuluh darah. Penelitian menunjukkan laki-laki yang menderita DM risiko PJK
50% lebih tinggi daripada orang normal, sedangkan perampuan risiko 2x lipatnya.
Mekanismenya belum jelas, akan tetapi terjadi peningkatan tipe IV hiperlipidemi
dan hipertrigliserid, pembentukan platelet yang abnormal dan DM yang disertai
obesitas dan hipertensi. Mungkin juga banyak faktor lain yang mempengaruhinya.
6.
Exercise
Exercise dapat
meningkatkan kadar HDL kolesterol dan memperbaiki kolateral koroner sehingga
risiko PJK dapat dikurangi. Exercise bermanfaat :
·
Memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2
ke miokard
·
Menurunkan BB sehingga lemak tubuh yang
berlebihan berkurang bersama dengan menurunnya LDL kolesterol
·
Menurunkan kolesterol, trigliserid dan
kadar gula darah pada penderita DM
·
Menurunkan TD
·
Meningkatkan kesegaran jasmani
7.
Stress
Penelitian
Supargo dkk (1981-1985) di FK UI menunjukkan orang yang stress 1,5x lebih besar
mendapatkan risiko PJK. Stress disamping dapat menaikkan TD juga dapat
meningkatkan kadar kolesterol darah.
b.
Tidak
dapat diubah
1.
Umur
Telah dibuktikan
adanya hubungan umur dan kematian akibat PJK. Sebagian besar kasus kematian
terjadi pada laki-laki umur 35-44 tahun dan meningkat dengan bertambahnya
umur. Juga didapatkan hubungan antara
umur dan kadar kolesterol yaitu kadar kolesterol total akan meningkat dengan
bertambahnya umur. Pada laki-laki kadar kolesterol akan meningkat sampai umur
50 tahun dan akhirnya akan turun setelah 50 tahun. Kadar kolesterol sebelum
menopause (45-60) lebih rendah daripada laki-laki dengan umur yang sama.
Setelah menopause kadar kolesterol perempuan biasanya akan meningkat lebih
tinggi daripada laki-laki.
2.
Jenis Kelamin
Di USA gejala
PJK sebelum umur 60 tahun didapatkan pada 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 17
perempuan. Ini berarti bahwa laki-laki mempunyai risiko PJK 2-3x lebih besar
daripada perempuan. Pada beberapa perempuan pemakaian oral kontrasepsi dan
selama kehamilan akan meningkat kadar kolesterolnya. Pada wanita hamil kadar
kolesterolnya akan kembali normal 20 minggu setelah kehamilan.
3.
Ras
Perbedaan risiko
PJK antara ras didapatkan sangat menyolok, walaupun bercampur baur dengan
faktor geografis, sosial dan ekonomi. Di USA perbedaan antara ras Caucasia
dengan non Caucasia (tidak termasuk Negro) didapatkan risiko PJK non Caucasia
separuhnya.
4.
Herediter
Hipertensi dan
hiperkolesterolemi dipengaruhi oleh faktor genetik. Sebagian kecil orang dengan
makanan sehari-harinya tinggi lemak dan kolesterol ternyata kadar kolesterol
darahnya rendah, sedangkan kebalikannya ada orang yang tidak dapat menurunkan
kadar kolesterol darahnya dengan diet rendah lemak jenuh dan kolesterol akan
tetapi kelompok ini hanya sebagian saja. Sebagian besar manusia dapat mengatur
kadar kolesterol darahnya dengan diet rendah lemak jenuh dan kolesterol.
5.
Kepribadian Tipe A
Dua macam
perilaku seseorang telah dijelaskan sejak tahun 1950 yaitu tipe A umumnya
berupaya kuat umtuk berhasil, gemar berkompetisi, agresif, ambisius, ingin
cepat dapat menyelesaikan pekerjaan dan tidak sabar. Sedangkan tipe B lebih
santai dan tidak terikat waktu. Risiko PJk pada tipe A lebih besar daripada
tipe B. Hubungan kebiasaan lainnya seperti kopi dan alkohol dengan risiko PJK
masih dipertanyakan. Beberapa peneliti menyimpulkan kopi akan meningkatkan
kadar kolesterol total dan trigliserid darah.
2.4 Pencetus
a)
Emosi
Berbagai emosi
akibat sesuatu yang meneggangkan akan meningkatkan adrenalin, adanya adrenalin
ini akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah, vasokontriksi ini akan
menyebabkan aliran O2 ke miokard berkurang sehingga terjadi pembentukan asam
laktat oleh miokardium sehingga timbul nyeri dada.
b)
Stress
Penelitian
Supargo dkk (1981-1985) di FK UI menunjukkan orang yang stress 1,5x lebih besar
mendapatkan risiko PJK. Stress disamping dapat menaikkan TD juga dapat
meningkatkan kadar kolesterol darah.
c)
Kerja fisik terlalu berat
Kebutuhan O2
untuk jantung akan meningkat, jika suplay berkurang maka jantung akan
kekurangan O2 akibatnya iskemik otot jantung selanjutnya akan terjadi
pembentukan asam laktat dan akhirnya timbul nyeri.
d)
Pajanan terhadap dingin
Dapat mengakibatkan
vasokontriksi dan peningkatan TD, disertai peningkatan kebutuhan O2.
e)
Makan makanan berat
Meningkatkan
aliran darah kedaerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan
ketersediaan darah untuk suplai jantung. (pada jantung yang sudah sangat parah,
pintasan darah untuk pencernaan membuat nyeri angina semakin buruk).
2.5
Manifestasi Klinis
a.
Nyeri dada substernal atau retrosternal menjalar ke
leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri.
b.
Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti
diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest
discomfort).
c.
Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih
dari 30 menit.
d.
Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian
nitrogliserin.
e.
Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang
muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines.
f.
Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T
terbalik.
g.
Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul
serangan.
2.6
Tipe Serangan
a.
Angina
Pektoris Stabil
1.
Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau
aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen miokard.
2.
Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian
aktifitas
3.
Durasi nyeri 3 – 15 menit.
b.
Angina
Pektoris Tidak Stabil
1.
Sifat, tempat dan penyebaran nyeri dada dapat mirip
dengan angina pektoris stabil.
2.
Durasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina
pektoris stabil.
3.
Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau
pada tingkat aktifitas ringan.
4.
Kurang responsif terhadap nitrat.
5.
ST. depresi segmen lebih sering ditemukan
6.
Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis,
spasmus, trombus atau trombosit yang beragregasi.
c.
Angina
Prinzmental (Angina Varian)
1.
Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat,
seringkali pagi hari.
2.
Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroner
aterosklerotik.
3.
EKG menunjukkan elevaasi segmen ST.
4.
Cenderung berkembang menjadi infark miokard akut.
5.
Dapat terjadi aritmia.
2.7
Patofisiologi
Mekanisme timbulnya angina pektoris
didasarkan pada ketidakadekuatan suplai oksigen ke sel-sel miokardium yang
diakibatkan karena kekakuan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner
(ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab
ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang
bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis.
Ateriosklerosis merupakan penyakir
arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan
meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat
pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih
banyak darah dan oksigen keotot jantung.
Namun apabila arteri koroner
mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat
berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka
terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium. Adanya endotel yang
cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksida yang berfungsi untuk
menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat
menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat
penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang.

Penyempitan atau blok ini belum
menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila
penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka
suplai darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen
anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan
asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila
kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat
dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses
ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan
reda.
2.8
Komplikasi
1.
Infark Miokard Akut
2.
Tachicardia dan fibrilasi ventikel
3.
Kematian jantung secara tiba-tiba
4.
Menurunnya nadi perifer
5.
Gangguan kontraktilitas
6.
Abnormalitas sirkulasi
7.
Disritmia ventrikuler berat
8.
Dekompensasi jantung atau komplikasi paru dan dispnea
2.9
Penatalaksanaan
1)
Menenangkan
Harus mengusahakan agar pasien
menyadari bahwa ada kemungkinan hidup lama dan berguna. Bahkan meskipun
mengidap angina pektoris. Biasanya tidak baik menyarankan statistiktapi cerita
riwayat kasus orang-orang dapat sangat berharga.
2)
Tindakan umum
Tidak ada bukti nyata pada manusia
bahwa aterosklerosis koroner dapat diusahakan segresinya, tetapi ekstrapdasinya
dari eksperimen-eksperimen binatang membuat hal ini tampak ada kemungkinannya.
3)
Penentuan protokol aktivitas jantung
Terapi khusus bergantung pada
eliminasi pertentangan antara kebutuhan O2. Otot jantung dan kemampuan
sirkulasi koroner untuk menutupi kebutuhan ini, kebanyakan dapat dibuat
mengerti konsep fundamental ini dapat dipakai dalam program aktivitas nasional.
4)
Eliminasi kemungkinan penyakit dapat menyebabkan
aksorbasi angina pektoris
Sejumlah penyakit tidak primer
kardian, sifatnya dapat mengikat kebutuhan O2 dari atau penurunan suplai O2 ke
miokardium. Kondisi ini dapat mengaksorbasi angina pektoris dan harus
diperhatikan.
5)
Penyusunan program terapi obat
Nitrat-nitrat adalah obat yang paling
berharga dalam angina pektoris, yang bergantung pada absorpsi lewat
membran-membran kulit yang lebih bagus dari pada ditelan.
6)
Penentuan titik-titik akhir yang merupakan
indikasi-indikasi untuk pertimbangan bedah bypass koroner
Banyaknya prosedur bedah telah
dilaksanakan untuk pengobatan penyakit ini, tetapi prosedur satu-satunya yang
saat ini ada anthuisme adalah aortocoronarybypass graft. Seksi dari vena dipakai
untuk membuat koneksi antara aorta dan arteri coronaria distal terhadap
obstruksi.
2.10 Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Angina
Pektoris
1.
Pengkajian
a.
Riwayat
Keperawatan
1. Keluhan
nyeri di dada anterior, prekordial, substernal yang menjalar ke lengan kiri,
leher, rahang, punggung, dan epigastrium. Nyeri dada dapat disertai dengan
gejala mual, muntah, diaforesis, dasn sesak napas.
2. Gambaran
nyeri dapat merupakan gejala yamg baru timbul atau sering hilang timbul.
3. Pekerjaan
4. Hobi
5. Kaji faktor
resiko penyakit jantung
a. Riwayat
penyakit klien
b. Riwayat
kesehatan lain
6. Obat-obatan
7. Riwayat
gangguan saluran pencernaan
8. Riwayat
kesehatan keluarga
b.
Pemeriksaan
Penunjang
1.
Elektrokardiografi
a. Normal saat
klien istirahat
b. Segmen ST
elevasi atau depresi, gelombang T inversi selama serangan berlangsung atau
timbul saat tes treadmill
c. Disritmia
bila ada harus dicatat
2.
Laboratoriun
darah
a. Complete
Blood cells count : anemia dan hema tokrit menurun. Lekositosis mengindikasi
adanya penyakit infeksi yang menimbulkan kerusakan katup jantung dan
menimbulkan keluhan angina.
b. Fraksi lemak
: terutama kolesterol (LDL) dan trigliserida yang merupakan faktor risiko CAD.
c. Serum tiroid
: menilai keadaan hipotiroid dan hipertiroid.
d. Cardiac
isoenzym : normal (CPK- Creatinin Phospokinase). CK-MB – Creatinin Kinase-MB,
SGOT – Serum Glutamic Oxalaacetic Transaminase dan LDH – Lactate Dehydrogenase)
dan troponin.
3.
Radiologi
a. Thorax
Rontgen : melihat gambaran kardiomegali seperti hipertrofi ventrikel atau CTR
lebih dari 50 %.
b. Echocardiogram
: melihat adanya penyimpangan pergerakkan katup dan dilatasi ruang jantung.
c. Scanning
Jantung : melihat luas daerah iskemik pada miokard.
d. Ventrikulografi
sinistra : menilai kemampuan kontraksi miokard dan pemompaan darah yang kecil
akibat kelainan katup atau septum jantung.
e. Kateterisasi
jantung : melihat kepatenan arteri koroner, lokasi sumbatan yang tepat, dan
memastikan kekuatan miokard.
c. Pemeriksaan
fisik
1.
Aktivitas/istirahat
Gejala : pola hidup monoton, kelemahan, kelelahan,
perasaan tidak berdaya setelah latihan, nyeri dada bila bekerja.
Tanda : dispnea saat kerja.
2.
Sirkulasi
Gejala : riwayat penyakit jantung, hipertensi, kegemukan.
Tanda : takikardia, distritmia, tekanan darah
normal, meningkat atau menurun, bunyi jantung mungkin normal, S4 lambat atau murmur
sistolik transien lambat (disfungsi otot papilaris) mungkin ada saat nyeri.
3.
Makanan/cairan
Gejala : mual,nyeri ulu hati/epigastrium saat
makan, diet tinggi kolesterol/lemak, garam, kafein, minuman keras.
Tanda : ikat pinggang sesak, distensi gaster.
4.
Integritas ego
Gejala : stressor kerja, keluarga, lain-lain.
Tanda : ketakutan, mudah marah.
5.
Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri dada substernal, anterior yang
menyebar ke rahang, leher, bahu, dan ekstremitas atas (lebih pada kiri dari
pada kanan)
Kualitas : ringan sampai sedang, tekanan berat, tertekan,
terjepit,terbakar.
Durasi : biasanya kurang dari 15 menit, kadang-kadang
lebih dari 30 menit (rata-rata 3 menit)
Faktor
pencetus: nyeri sehubungan dengan kerja fisik atau emosi besar, seperti marah,
olahraga pada suhu ekstrim, atau mungkin tak dapat diperkirakan dan/atau
terjadi selama istirahat.
Faktor
penghilang: nyeri mungkin responsif terhadap mekanisme penghilang tertentu
(contoh : istirahat,obat antiangina). Nyeri dada baru atau terus menerus yang
telah berubah frekuensi, durasinya, karakter atau dapat diperkirakan (contoh :
tidak stabil, bervariasi, prinzmetal).
Tanda : wajah berkerut, meletakkan pergelangan
tangan pada midsternum, memijit tangan kiri, tegangan otot, dan gelisah. Respon otomatis
contoh takikardi, perubahan TD.
6.
Pernafasan
Gejala : dispnea saat kerja, riwayat merokok.
Tanda : meningkat pada frekuensi/irama dan
gangguan kedalaman.
7.
Penyuluhan pembelajaran
Gejala : riwayat keuarga sakit jantung, hipertensi,
stroke, diabetes.
Penggunaan/kesalahan penggunanan
obat jantung, hipertensi atau obat yang dijual bebas. Penggunaan
akohol teratur, obat narkotik contoh kokain, amfetamin. DRG
menunjukkan rerata lama dirawat : 3,8 hari.
Pertimbangan
rencana pemulangan : perubahan pada penggunaan/terapi obat, bantuan/pemeliharaan
tugas dengan rawat dirumah, perubahan pada susunan fisik rumah.
2.
Diagnosa
keperawatan
a. Perubahan
kenyamanan ( nyeri dada akut ) b.d iskemia miokard sekunder terhadap
ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard.
b. Risiko
terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik b.d kurang
pengetahuan tentang diet, program terapi, program aktivitas, serta tanda dan
gejala komplikasi.
c. Kecemasan
b.d ancaman integritas biologis yang daraasakan sekunder terhadap serangan
jantung.
d. Intoleransi
aktivitas b.d curah jantung.
3.
Intervensi
Dx I : Perubahan kenyamanan ( nyeri dada
akut ) b.d iskemia miokard sekunder terhadap ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen miokard.
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang dan
iskemia tidak berkembang
KH : nyeri berkurang atau hilang, pola napas eupnea,
mual dan muntah hilang, reaksi non-verbal baik.
Intervensi
|
Rasional
|
a)
a) Kurangi atau batasi aktivitas fisik selama
serangan
|
Pembatasan aktivitas fisik mengurangi konsumsi oksigen
dan beban kerja jantung
|
b)
Posisi tidur supine semi fowler
|
Posisi
semifowler membantu meringankan gejala kesulitan bernapas dan memperbaiki
ekspansi paru
|
c)
Pelihara ketenangan, lingkungan yang nyaman, batasi
jumlah pengunjung klien
|
Lingkungan nyaman dan tenang menunjang
kebutuhan istirahat dan mengurangi kecemasan
|
d)
Monitor TTV segera setelah pemberian obat anti nyeri
dan setiap 5 menit selam 20 menit atau lebih secara teratur bila keadaan
belum stabil
|
Efek
samping obat anti nyeri berupa hipotensi dab bradikardi dapat segera
diantisipasi dengan intervensi yang cepat
|
e)
Monitor TTV, bunyi jantung setiap 2 jam bila keadaan
sudah stabil, dan catat tiap perubahan penting yang timbul.
|
Perubahan
TTV dan bunyi jantung merupakan indikator perubahan hemodinamik
|
f)
Observasi timbulnya nyeri dengan melihat isyarat
verbal atau nion verbal
|
Nyeri
merangsang respon stress yang memicu pelepasan katekolamin endogen sehingga
meningkatkan konsumsi oksigen
|
g)
Rawat dan pertahankan IV line atau infus bila ada
|
Akses IV
line yang paten memudahkan perawat dokter memberikan terapi obat jika kondisi
klien memburuk
|
h)
Kolaborasi dengan tim gizi dalam memberikan diet
jantung. Bantu klien makan sedikit demi sedikit tapi sering
|
Diet
rendah garam mengurangi retensi cairan. Diet rendah lemak menurunkan kadar
kolesterol darah
|
i)
Diskusikan dengan klien tentang faktor-faktor yang
dapat mempercepat timbulnya serangan nyeri dan tentang perubahan aktivitas
sehari-hari
|
Pembatasan aktivitas guna mempertahankan denyut
jantung dan TD pada batas aman
|
j)
Kolaborasi dengan dokter untuk program terapi.
a.
Vasodilator : nitrogliserin
b.
Analgetik
c.
Tranquilizer
d.
Antiplatelet dan anti koagulan
|
a.nitrat merelaksasikan otot polos vaskular vena dan
arteri sehingga menurunkan preload.
b. hilangnya nyeri menurunkan respon stres dan
konsumsi oksigen.
c. Tranquilizer menurunkan respon stres.
d. mencegah koagulasi, memperbaiki sirkulasi arteri
koroner dan perfusi miokard
|
k) k) Monitor
reaksi dan efek yang diharapkan, efek samping dan toksisitas obat-obatan yang
diberikan
|
Efek
samping obat yangdapat membehayakan kondisi klien harus dikaji
|
Dx II :Risiko
terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik b.d kurang
pengetahuan tentang diet, program terapi, program aktivitas, serta tanda dan
gejala komplikasi.
Tujuan : Klien
memahami tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
KH : Klien
mampu :
1.
Menjelaskan pengertian, penyebab dan faktor pencetus
penyakitnya.
2.
Menjelaskan manfaat dari diet yang diberikan.
3.
Melaksanakan tindakan yang harus dilakukan setelah
sembuh dan pulang ke rumah.
Intervensi
|
Rasional
|
Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang
pengertian yang mendasari proses penyakit dan tujuan pengaturan gaya hidup.
|
Pengetahuan tentang proses penyakit dan pengaturan
gaya hidup membantu mencegah serangan ulang
|
Jelaskan tujuan pemberian obat, reaksi dan efek
samping, serta penggunaan obat profilaksis (harus dinilai dulu stres yang
dialami pasien sebelum pemberian terapi
|
Pemahaman tentang terapi obat-obatan membantu klien
mentaati program terapi dan mencegah efek samping yang membahayakan
|
Diskusikan efek vasokontriksi akibat kebiasaan
merokok
|
Merokok mengakibatkan kerusakan endotel dan
vasokontriksi yang memicu peningkatan preload
|
Diskusikan jenis makanan yang harus dibatasi dan
berikan contoh menu yang sesuai dengan dietnya
|
Pengetahuan tentang diet dan contoh menu membantu
klien mengatur pola makan sehat
|
Diskusikan perubahan pola aktivitas. Ajarkan cara
mengukur frekuensi nadi dan tekanan darah.
|
Pola aktivitas dilakukan untuk menjaga denyut
jantung dan tekanan darah dalam batas aman secara individual pada masa
pemulihan
|
BAB III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Coronary
Artery Disease adalah penyakit yang berkaitan dengan
kerusakan pada arteri koroner seperti angina pektoris dan infark miokard.
Beberapa ahli juga menyebutnya dengan istilah Acute Coronary Syndrome (ACS – sindrom koroner akut). Pengertian
klinis Angina adalah keadaan iskemia
miokard karena kurangnya suplai oksigen ke sel-sel otot jantung (miokard) yang
disebabkan oleh penyumbatan atau penyempitan arteri koroner, peningkatan beban
kerja jantung, dan menurunnya kemampuan darah mengikat oksigen.
Angina
diklasifikasikan dalam 3 tipe yaitu : Angina stabil, Angina tidak stabil dan
Angina variant.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner
& Suddarth. 2002. Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Muttaqin,
Arif. 2009. Pengantar Asuhan Keperawatan
Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Jakarta : salemba Medika.
Price,
Sylvia Anderson. 1994. Patofisiologi :
konsep klinis proses-proses penyakit volume I. Jakarta : EGC.
Udjianti,
Wajan Juni. 2010. Keperawatan
Kardiovaskular. Jakarta : Salemba Medika.
http://mitatytania.blogspot.com/2012/12/asuhan-keperawatan-pada-angina-pectoris.html
diakses tanggal 4 Oktober
2013
http://www.klinikherbaldunia.com/faktor-pencetus-kejadian-angina-pectoris/ diakses tanggal 9 Oktober 2013
pukul 19.30 WIB.
No comments:
Post a Comment